Sabtu, 19 November 2011

Cinta yang (hampir) Kadaluarsa


Bulan mulai menjadi bulat utuh malam ini. Persis seperti kue ulang tahun yang kukirim padamu tahun lalu. Ini adalah kali pertama aku tak memberimu ucapan selamat ulang tahun. Dering pengingat hari ulang tahunmu di telepon genggamku masih meraung keras. Mungkin ia adalah sisa kenangan yang dulu pernah aku tuliskan sewaktu kau masih jadi kekasihku. “Cinta ulang tahun” begitu bunyi tanda pengingat di layar telepon genggamku. Pukul dua belas tepat pesan itu mulai muncul. Ah, manusia memang terkadang berlebihan. Selalu ingin menjadi nomor satu mengucapkan selamat ulang tahun pada orang yang mereka kira akan mereka cintai seumur hidup. Kali ini, aku bahkan tak akan menjadi orang terakhir yang mengucapkannya di telingamu, karena aku mengira bahwa aku tak akan mencintaimu lagi.

Solo, 15 Juni 2011

127 Hours: Potret Gerak Lambat Kehidupan

What will come up in your mind when you feel that death is so close? Probably, you’ll think about your family, your lover, and other people you love and love you back. Suddenly, they become your energy to keep you awake each time you find pain that almost kills you.
Berbicara tentang film 127 Hours, membuat saya bercermin. Seperti itukah manusia hidup? Berjalan di tanah yang lapang, sepi dan kering. Kita kemudian lompat dalam lubang yang kita pikir tak akan melukai, tapi ternyata sebuah bencana kecil datang menjepit kita hingga kita tak dapat bergerak ke luar. Mimpi dan orang-orang yang kita cintai menjadi sebuah bahan bakar dengan daya ledak yang luar biasa hebat bagi semangat kita.
Sebenarnya, film besutan Danny Boyle ini mengguratkan pesan yang mirip dengan film-film Amerika lainnya, yaitu tentang pentingnya keluarga dan memiliki kemauan kuat. Namun, cara film ini bertutur mampu memberikan nuansa yang terasa lain.
Film berdurasi sekitar dua jam itu lolos membuat penontonnya terpaku pada layar kaca dengan perasaan yang terus tegang. Tak banyak percakapan yang disajikan dalam film itu. Ia bercerita tentang seoarang petualang yang tangannya terjepit oleh batu dalam tebing. Alkisah, sang tokoh utama, Aron Ralston (James Franco) sangat mencintai hobinya yang memang berbau marabahaya itu. Sepanjang pengalamannya, petualangan dari tebing ke tebing ia jalani dengan baik-baik saja. Hingga pada satu waktu dewi fortuna tak berpihak padanya tatkala ia ingin menaklukkan Blue John Canyon. Kakinya terpeleset, dan tangannya terjepit pada dinding tebing.
Pada awal cerita dituturkan bagaimana Ralston menggunakan segala cara agar ia dapat menghempaskan batu yang menghimpit tangannya hingga berdarah. Dikikisnya batu tersebut dengan sebuah pisau serba guna berukuran kecil. Tapi rupanya usaha itu tak berbuah apa-apa. Tangannya makin hari makin membiru karena himpitan batu, tubuhnya tetap tak dapat bergerak ke manapun. Karena kemauannya yang demikian hebat untuk menyelamatkan diri, Ralston pun terus berusaha membuka mata tiap pagi dan melawan dinginnya udara padang pasir di malam hari.
Kisah ini seperti gerak lambat dari kehidupan. Dikisahkan, ia melihat mentari berjalan tiap pagi, burung gagak terbang tiap hari di jam yang sama. Kejadian itu membuat Ralston menikmati tiap inci sengatan matahari yang menyentuh kakinya, dan membuatnya mengerti betapa berartinya setetes air yang mengenai bibirnya.
Pada saat yang demikian, segala kenangan pun datang dalam pikirannya. Ibunya, ayahnya, pacarnya, siapa saja yang pernah mampir dalam arena hidupnya, tiba dalam otak, hingga bayangan itu menelantarkan egonya sampai  terkapar tak berdaya. Dalam semua ucapan yang ia rekam di handycam, menunjukkan betapa ia menyesal telah mengabaikan segala cinta yang ia miliki.
Rupanya, hubungan Ralston dengan kerabat dekatnya tak berjalan mulus. Ia kerap kali mengabaikan telepon ibunya, atau pun pacarnya. Sikap itulah yang kemudian menebas segala egoism Ralston dan membuat pria tersebut menyesal karena telah menyia-nyiakan mereka semua.
Tiap kali Ralston merekam dirinya sendiri, ia selalu menyebut sang ibu. Ia berulang-ulang menyebutkan penyesalannya karena telah mengabaikan telepon dari sang ibu. Adegan ini sepertinya ingin menyengat penonton dengan sindiran sederhana. Tak mengangkat telepon dari ibu, mungkin pernah atau sering dilakukan oleh siapa pun. Tapi berapa orang yang sadar, bahwa hal itu adalah tindakan yang akan ia sesali saat ia bahkan tak lagi bisa mendengar dering telepon dari ibu.
Pada menit kelimapuluhan, dengan semena-mena, sang sutradara, Boyle, mengocok perasaan penontonnya dengan membuat adegan yang mengharukan, sedih, dan kadang lucu. Bukan pekerjaan mudah membuat adegan lucu saat kita mengisahkan seseorang yang menderita berjuang untuk tetap hidup. Tapi film ini berhasil menampilkan sedikit adegan kocak di tengah ketegangan. Ia menampilkan Ralston tengah berakting menampilkan acara talkshow di depan handycam, dan berucap yang segala guyonan sinis yang sebenarnya lebih tepat dikatakan mengutuki diri sendiri. Ralston melakukan itu saat ia berada dalam kondisi sakit, lelah, haus dan lapar. Ada tawa yang terasa getir saat adegan itu tiba. Cerita ini seperti ingin membuat replika kenyataan yang tiap hari manusia alami. Saat manusia merasa tak ada lagi yang tersisa, maka satu-satunya cara untuk menghibur diri adalah melihat bahwa luka adalah lelucon belaka.
Kisah Ralston terasa lebih memilukan tatkala ia semakin sadar bahwa bicara dengan dirinya sendiri melalui handycam adalah kenyataan menyedihkan. Selama ini Ralston yang merasa mampu mengatasi hidupnya sendirian, tiba-tiba tengah terkatung-katung lemas dan berharap orang tua, rekan kerja atau siapa pun hadir menyapa dan menolongnya.
Pada hari kelima, di sinilah titik paling esensial dari inti masalah Ralston. Pada akhirnya ia pun mulai menerima bahwa tangan yang mulai membusuk itulah sumber masalahnya. Ia pun menemukan cara yang mencengangkan untuk terbebas dari himpitan batu: memutus tangannya sendiri dengan pisau kecil. Jangan dibayangkan bahwa adegan ini akan terlihat sangat vulgar. Sang sutradara tahu betul, bahwa bukan gambaran sadistis yang ia fokuskan, melainkan ia ingin tetap fokus pada bagaimana seseorang ingin tetap bertahan hidup apa pun caranya.
Film ini intinya bermuara pada sebuah ide simpel: bagaimana kita menghargai segala hal sederhana yang kita punya dan berjuang untuk menjemput mimpi demi mereka. Keluarga, keberlimpahan, dan kekasih, adalah hal tak terhitung yang ternyata tak pernah kita harapkan kepergiannya. Keinginan untuk berkumpul kembali dengan mereka menjadi hal yang terasa muskil saat keadaan kita amat terhimpit. Kita bahkan rela terus bertahan melawan segala sakit demi orang-orang itu apa pun taruhannya.

Jumat, 11 November 2011

Aku dan Tulisan Tohari

Usai menyaksikan film Sang Penari, ingatan saya tentang karya Ahmad Tohari pun seperti kembali dinyalakan. Ada sebuah pengalaman emosional nan magis ketika saya membaca beberapa karya Tohari. Novel pertama yang saya baca dari penulis asal Banyumas ini adalah: Bekisar Merah. Tak sengaja saya menyahut novel tersebut saat ia tergeletak di lantai sekre UKM tempat saya beraktivitas saat kuliah dulu. Karena sebelumnya tak tahu siapa Ahmad Tohari, jadi saya tak berharap apa pun dari buku itu.
Tulisan Ahmad Tohari dalam Bekisar Merah semacam lukisan realis yang amat memesona bagi saya. Kefasihannya menyuratkan panorama desa di pesisir, membuat pikiran ikut berkelana, menikmati setiap kicauan burung yang ia tuliskan. Caranya bertutur tentang karakter dalam cerita pun membuat saya benar-benar ikut jatuh cinta, persis yang dirasakan oleh Las pada suaminya.
Tokoh utama yang ditulis oleh Tohari dalam Bekisar Merah, telah membuat saya berimajinasi tentang seorang pria. Fatalnya, imajinasi itu pun melekat pada seseorang dan telah mengantarkan hati saya pada perasaan jatuh cinta pada orang tersebut. kenyataan itu persis seperti saat keponakan saya mengagumi artis Korea dan jatuh cinta pada orang yang mirip dengan idolanya itu. Hanya saja, idealisme saya didasarkan cerita dalam sebuah novel.
Pengharapan yang besar pun hadir saat saya membaca novel Tohari yang kedua, yaitu: Ronggeng Dukuh Paruk. Selain karena pengalaman dari novel pertama yang begitu bermakna, saya mendengar novel ini termahsyur karena proses penggarapan dan pengisahannya yang demikian ciamik.
Alhasil, harapan saya tak bertepuk sebelah tangan! Buku ini teramat lengket dalam ingatan saya. Cara Tohari menggambarkan kemiskinan, kepedihan, kegalauan, dan kecantikan dengan sangat menggetarkan. Seolah, semua rasa adalah sebuah lagu yang not-notnya tak dapat terpisah satu sama lain. Saya tak bisa membayangkan, seandainya kisah dukuh paruk tanpa kegetiran dan kepedihan, pasti cerita akan timpang. Begitu pun jika ronggeng tidak digambarkan punya kesedihan dan kegalauan, kisahnya pasti akan terasa cemplang. Kisah pencarian Srintil tentang dirinya sendiri, seolah-olah mengajak pembaca untuk membantunya menemukan hakikat ke-aku-annya.
Srintil yang mabuk kepayang pada Rasus, telah membuat saya ikut nelangsa. Betapa cinta telah menyeret seorang Ronggeng  pada permasalahan tentang diri yang sungguh rumit. Srintil yang secara fisik mendekati kesempurnaan, rupanya harus menyerah kala mendapati kenyataan bahwa ia tak lagi bisa bersama Rasus itu. Di akhir cerita, Tohari pun menutupnya dengan sebuah kisah yang memilukan. Pada akhirnya, kita semua akan paham bahwa tiap tokoh utama hadir untuk memenuhi takdirnya, melengkapi satu sama lainnya.
***
Ronggeng Dukuh Paruk tentu bukan akhir dari pembacaan saya terhadap tulisan Tohari. Beberapa buku lain pun tetap membuat saya makin mengagumi teknik penulis Banyumas ini. Caranya berkisah tentang pedesaan, membuat saya merindukan kebersahajaannya.