Sabtu, 19 November 2011

127 Hours: Potret Gerak Lambat Kehidupan

What will come up in your mind when you feel that death is so close? Probably, you’ll think about your family, your lover, and other people you love and love you back. Suddenly, they become your energy to keep you awake each time you find pain that almost kills you.
Berbicara tentang film 127 Hours, membuat saya bercermin. Seperti itukah manusia hidup? Berjalan di tanah yang lapang, sepi dan kering. Kita kemudian lompat dalam lubang yang kita pikir tak akan melukai, tapi ternyata sebuah bencana kecil datang menjepit kita hingga kita tak dapat bergerak ke luar. Mimpi dan orang-orang yang kita cintai menjadi sebuah bahan bakar dengan daya ledak yang luar biasa hebat bagi semangat kita.
Sebenarnya, film besutan Danny Boyle ini mengguratkan pesan yang mirip dengan film-film Amerika lainnya, yaitu tentang pentingnya keluarga dan memiliki kemauan kuat. Namun, cara film ini bertutur mampu memberikan nuansa yang terasa lain.
Film berdurasi sekitar dua jam itu lolos membuat penontonnya terpaku pada layar kaca dengan perasaan yang terus tegang. Tak banyak percakapan yang disajikan dalam film itu. Ia bercerita tentang seoarang petualang yang tangannya terjepit oleh batu dalam tebing. Alkisah, sang tokoh utama, Aron Ralston (James Franco) sangat mencintai hobinya yang memang berbau marabahaya itu. Sepanjang pengalamannya, petualangan dari tebing ke tebing ia jalani dengan baik-baik saja. Hingga pada satu waktu dewi fortuna tak berpihak padanya tatkala ia ingin menaklukkan Blue John Canyon. Kakinya terpeleset, dan tangannya terjepit pada dinding tebing.
Pada awal cerita dituturkan bagaimana Ralston menggunakan segala cara agar ia dapat menghempaskan batu yang menghimpit tangannya hingga berdarah. Dikikisnya batu tersebut dengan sebuah pisau serba guna berukuran kecil. Tapi rupanya usaha itu tak berbuah apa-apa. Tangannya makin hari makin membiru karena himpitan batu, tubuhnya tetap tak dapat bergerak ke manapun. Karena kemauannya yang demikian hebat untuk menyelamatkan diri, Ralston pun terus berusaha membuka mata tiap pagi dan melawan dinginnya udara padang pasir di malam hari.
Kisah ini seperti gerak lambat dari kehidupan. Dikisahkan, ia melihat mentari berjalan tiap pagi, burung gagak terbang tiap hari di jam yang sama. Kejadian itu membuat Ralston menikmati tiap inci sengatan matahari yang menyentuh kakinya, dan membuatnya mengerti betapa berartinya setetes air yang mengenai bibirnya.
Pada saat yang demikian, segala kenangan pun datang dalam pikirannya. Ibunya, ayahnya, pacarnya, siapa saja yang pernah mampir dalam arena hidupnya, tiba dalam otak, hingga bayangan itu menelantarkan egonya sampai  terkapar tak berdaya. Dalam semua ucapan yang ia rekam di handycam, menunjukkan betapa ia menyesal telah mengabaikan segala cinta yang ia miliki.
Rupanya, hubungan Ralston dengan kerabat dekatnya tak berjalan mulus. Ia kerap kali mengabaikan telepon ibunya, atau pun pacarnya. Sikap itulah yang kemudian menebas segala egoism Ralston dan membuat pria tersebut menyesal karena telah menyia-nyiakan mereka semua.
Tiap kali Ralston merekam dirinya sendiri, ia selalu menyebut sang ibu. Ia berulang-ulang menyebutkan penyesalannya karena telah mengabaikan telepon dari sang ibu. Adegan ini sepertinya ingin menyengat penonton dengan sindiran sederhana. Tak mengangkat telepon dari ibu, mungkin pernah atau sering dilakukan oleh siapa pun. Tapi berapa orang yang sadar, bahwa hal itu adalah tindakan yang akan ia sesali saat ia bahkan tak lagi bisa mendengar dering telepon dari ibu.
Pada menit kelimapuluhan, dengan semena-mena, sang sutradara, Boyle, mengocok perasaan penontonnya dengan membuat adegan yang mengharukan, sedih, dan kadang lucu. Bukan pekerjaan mudah membuat adegan lucu saat kita mengisahkan seseorang yang menderita berjuang untuk tetap hidup. Tapi film ini berhasil menampilkan sedikit adegan kocak di tengah ketegangan. Ia menampilkan Ralston tengah berakting menampilkan acara talkshow di depan handycam, dan berucap yang segala guyonan sinis yang sebenarnya lebih tepat dikatakan mengutuki diri sendiri. Ralston melakukan itu saat ia berada dalam kondisi sakit, lelah, haus dan lapar. Ada tawa yang terasa getir saat adegan itu tiba. Cerita ini seperti ingin membuat replika kenyataan yang tiap hari manusia alami. Saat manusia merasa tak ada lagi yang tersisa, maka satu-satunya cara untuk menghibur diri adalah melihat bahwa luka adalah lelucon belaka.
Kisah Ralston terasa lebih memilukan tatkala ia semakin sadar bahwa bicara dengan dirinya sendiri melalui handycam adalah kenyataan menyedihkan. Selama ini Ralston yang merasa mampu mengatasi hidupnya sendirian, tiba-tiba tengah terkatung-katung lemas dan berharap orang tua, rekan kerja atau siapa pun hadir menyapa dan menolongnya.
Pada hari kelima, di sinilah titik paling esensial dari inti masalah Ralston. Pada akhirnya ia pun mulai menerima bahwa tangan yang mulai membusuk itulah sumber masalahnya. Ia pun menemukan cara yang mencengangkan untuk terbebas dari himpitan batu: memutus tangannya sendiri dengan pisau kecil. Jangan dibayangkan bahwa adegan ini akan terlihat sangat vulgar. Sang sutradara tahu betul, bahwa bukan gambaran sadistis yang ia fokuskan, melainkan ia ingin tetap fokus pada bagaimana seseorang ingin tetap bertahan hidup apa pun caranya.
Film ini intinya bermuara pada sebuah ide simpel: bagaimana kita menghargai segala hal sederhana yang kita punya dan berjuang untuk menjemput mimpi demi mereka. Keluarga, keberlimpahan, dan kekasih, adalah hal tak terhitung yang ternyata tak pernah kita harapkan kepergiannya. Keinginan untuk berkumpul kembali dengan mereka menjadi hal yang terasa muskil saat keadaan kita amat terhimpit. Kita bahkan rela terus bertahan melawan segala sakit demi orang-orang itu apa pun taruhannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar