Usai menyaksikan film Sang Penari, ingatan saya tentang karya Ahmad Tohari pun seperti kembali dinyalakan. Ada sebuah pengalaman emosional nan magis ketika saya membaca beberapa karya Tohari. Novel pertama yang saya baca dari penulis asal Banyumas ini adalah: Bekisar Merah. Tak sengaja saya menyahut novel tersebut saat ia tergeletak di lantai sekre UKM tempat saya beraktivitas saat kuliah dulu. Karena sebelumnya tak tahu siapa Ahmad Tohari, jadi saya tak berharap apa pun dari buku itu.
Tulisan Ahmad Tohari dalam Bekisar Merah semacam lukisan realis yang amat memesona bagi saya. Kefasihannya menyuratkan panorama desa di pesisir, membuat pikiran ikut berkelana, menikmati setiap kicauan burung yang ia tuliskan. Caranya bertutur tentang karakter dalam cerita pun membuat saya benar-benar ikut jatuh cinta, persis yang dirasakan oleh Las pada suaminya.
Tokoh utama yang ditulis oleh Tohari dalam Bekisar Merah, telah membuat saya berimajinasi tentang seorang pria. Fatalnya, imajinasi itu pun melekat pada seseorang dan telah mengantarkan hati saya pada perasaan jatuh cinta pada orang tersebut. kenyataan itu persis seperti saat keponakan saya mengagumi artis Korea dan jatuh cinta pada orang yang mirip dengan idolanya itu. Hanya saja, idealisme saya didasarkan cerita dalam sebuah novel.
Pengharapan yang besar pun hadir saat saya membaca novel Tohari yang kedua, yaitu: Ronggeng Dukuh Paruk. Selain karena pengalaman dari novel pertama yang begitu bermakna, saya mendengar novel ini termahsyur karena proses penggarapan dan pengisahannya yang demikian ciamik.
Alhasil, harapan saya tak bertepuk sebelah tangan! Buku ini teramat lengket dalam ingatan saya. Cara Tohari menggambarkan kemiskinan, kepedihan, kegalauan, dan kecantikan dengan sangat menggetarkan. Seolah, semua rasa adalah sebuah lagu yang not-notnya tak dapat terpisah satu sama lain. Saya tak bisa membayangkan, seandainya kisah dukuh paruk tanpa kegetiran dan kepedihan, pasti cerita akan timpang. Begitu pun jika ronggeng tidak digambarkan punya kesedihan dan kegalauan, kisahnya pasti akan terasa cemplang. Kisah pencarian Srintil tentang dirinya sendiri, seolah-olah mengajak pembaca untuk membantunya menemukan hakikat ke-aku-annya.
Srintil yang mabuk kepayang pada Rasus, telah membuat saya ikut nelangsa. Betapa cinta telah menyeret seorang Ronggeng pada permasalahan tentang diri yang sungguh rumit. Srintil yang secara fisik mendekati kesempurnaan, rupanya harus menyerah kala mendapati kenyataan bahwa ia tak lagi bisa bersama Rasus itu. Di akhir cerita, Tohari pun menutupnya dengan sebuah kisah yang memilukan. Pada akhirnya, kita semua akan paham bahwa tiap tokoh utama hadir untuk memenuhi takdirnya, melengkapi satu sama lainnya.
***
Ronggeng Dukuh Paruk tentu bukan akhir dari pembacaan saya terhadap tulisan Tohari. Beberapa buku lain pun tetap membuat saya makin mengagumi teknik penulis Banyumas ini. Caranya berkisah tentang pedesaan, membuat saya merindukan kebersahajaannya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar